postingan yang kemarin-kemarin

tanggal berapa?

February 2015
S M T W T F S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
IPB Badge

hania.zulfa10's blog

Just another weblog

inspirasi

Author: hania zulfa
09 12th, 2010

cerita ini dibuat untuk MPKMB 47, ada dua cerita, yang pertama mengenai orang lain dan satu lagi mengenai diri saya sendiri. semoga bermanfaat :)

Hania Zulfa

A44100071

Laskar 15


Don’t judge a book by its cover

Dekati, dan kenalilah lebih dekat

Itulah yang selalu saya tanamkan ketika saya ingat cerita kakak saya, beberapa tahun yang lalu. Kakak saya, namanya Dini, saya sering memanggilnya teteh atau tehni (singkatan dari teh dini) karena saya memang¬† berdarah sunda. Dari dia, saya selalu menerapkan prinsip itu, “jangan pernah menghakimi orang lain tanpa kita kenal lebih jauh”. Mengapa? Karena dia pernah menjadi objek kesalahpahaman teman-temannya. Dari kecil dia memang disekolahkan di tempat yang beda oleh orang tua kami. Karena dari empat bersaudara, dialah yang disekolahkan di Madrasah, sekolah agama, saya dan kedua kakak saya yang lain disekolahkan di Sekolah umum. Mungkin karena orang tua kami ingin anaknya mendapatkan pendidikan agama yang baik. Setelah tamat dari Madrasah Ibtidaiyah ia pun meneruskan ke Madrasah Tsanawiyah negeri di pusat kota Bekasi. Disana, dia memiliki banyak teman yang sangat baik, mungkin karena latar belakang mereka sama, berasal dari kelas menengah dan sama-sama menempuh pendidikan di Madrasah. Alhamdulillah, tamat dari Madrasah Tsanawiyah, kakak saya menjadi satu-satunya siswa yang berhasil masuk di SMA favorit di Kota Bekasi. Namun, suasana di sekolah ini tidak terlalu baik untuk dia. Bukan sekolah atau madrasahnya yang salah, tapi pandangan teman-temannyalah yang salah. Di sekolah ini, dia tidak terlalu banyak memiliki teman dekat. Bukan berarti dia tidak bisa bergaul, tapi entah mengapa banyak dari teman sekelasnya yang memberikan kesan kalau anak madrasah itu kampungan, bodoh, atau persepsi lainnya yang saya bahkan kakak saya pun tidak tahu. Mungkin karena kebanyakan dari siswa di sekolah ini berasal dari kalangan kelas menengah keatas dan berasal dari sekolah umum yang lebih bergengsi. Di kelas, dia sering diasingkan oleh teman-temannya. Pernah saat ulangan biologi, kakak saya mendapatkan nilai tertinggi dikelas, namun teman-temannya meragukan kemampuannya. Ada salah satu dari temannya yang mengatakan bahwa kakak saya membawa contekan saat ulangan. Dia pun menangis saat mendapati perilaku teman sekelasnya yang seperti itu. Bagaimana tidak, dia dipojokkan oleh seisi kelas padahal dia sama sekali tidak melakukan hal itu. Tidak hanya itu, sekitar bulan Januari tahun 2004, dia menderita Demam Berdarah Dengue dan akhirnya dirawat di rumah sakit sekitar seminggu lebih. Tapi, tidak ada satu orangpun teman SMA-nya yang menjenguk dia. Hanya teman-teman MTS nya saja yang setia menemani. Namun, dia berusaha tegar dan tidak memperdulikan mereka. Dia berjuang sendiri untuk melawan persepsi teman-temannya kalau anak MTS itu tidak seperti yang mereka katakan. Dia cukup berprestasi saat sekolah. Menjelang kelulusan, ia berhasil masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit di Indonesia melalui jalur PMDK. Ada satu do’a yang saya ingat sekali saat ia memilih universitas, yaitu ia ingin kampus dimana orang-orangnya baik dan tidak pernah membedakan latar belakang mereka masing-masing. Akhirnya ia pun bisa membuktikan kepada teman-teman SMA-nya bahwa persepsi mereka atas anak MTS pun salah. Saat kuliah, dia pernah bertemu dengan teman sekelasnya lagi di SMA, temannya pun bilang kalau dini yang sekarang “beda” dari dini yang dulu. Semua ini karena mereka tidak pernah mengenal kakak saya lebih dekat. Dia tidak pernah berubah.¬† Saya sangat kagum dan bangga ketika menceritakan kakak saya yang satu ini. Dia selalu menginspirasi dan membangkitkan semangat belajar saya. Bukan berarti saya tidak bangga dengan kakak saya yang lain, karena mereka punya kelebihan masing-masing. Saat ini, ia sudah lulus menempuh pendidikannya dan sedang menjalani internship di luar negeri.

I love you sist :)


hadapi semua rintangan, selalu semangat

Sekolah memang menjadi dambaan semua anak. Dengan bersekolah, kita akan menjadi orang yang berpengetahuan. Alhamdulillah, saya termasuk orang yang beruntung bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Maka dari itu, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan saya untuk sekolah. Dulu, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, ada kejadian yang selalu saya ingat. Pagi itu hujan turun cukup deras. Namun saya tetap pergi ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum. Setelah sampai dua kilometer dari tempat saya sekolah, ternyata sudah tergenang air setinggi lutut. Alhasil, memutarlah angkutan umum yang saya naiki. Saya dan penumpang lainnya dibawa supir memutar ke arah yang malah menjauhi sekolah saya. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di jalan tembusan yang mengarah ke sekolah. Namun ternyata sama saja. Daerah itu pun banjir dan macet kurang lebih 2 km. Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 7.30, dan itu menandakan saya terlambat. Karena pintu gerbang sekolah sudah ditutup pukul 7.30. Saya pun pasrah dengan apa yang terjadi. Mau tidak mau saya harus menunggu mobil angkutan umum itu bisa keluar dari genangan air dan macet yang panjang. Alhamdulillah, sekitar 30 menit kemudian angkutan umum yang saya naiki berhasil keluar dari macet berkat kelincahan pak sopir untuk menyalip. Kebahagiaan ternyata tidak berlangsung lama. Seperti peribahasa habis jatuh tertimpa tangga, jalan keluar itu ternyata banjir juga. Tidak hanya itu, mobil angkutan umum yang saya naiki pun mogok. Pak supir pun meminggir dan memperbaiki mobil angkutannya. Karena terlalu lama dan jam pun sudah menunjukkan pukul 8.30, saya dan penumpang angkutan yang lain memutuskan untuk turun dan jalan kaki. Alhamdulillah saya bertemu dengan teman sekolah di jalan. Jalanan yang kami lewati sudah tergenang air setinggi betis dan lumpur dimana-mana. Disepanjang jalan, banyak mobil dan motor yang mogok. Kami pun tetap pergi ke sekolah walaupun seragam yang kami gunakan sudah basah dan kotor. Kami berjalan kurang lebih 1 km. Pukul 9.30 akhirnya kami sampai di sekolah. Awalnya saya takut untuk masuk karena saya sudah benar benar terlambat. Saya pun memberanikan diri untuk menemui pak satpam dan meminta ijin untuk dibukakan pintu. Alhamdulillah kami diperbolehkan untuk masuk, bahkan saya diantar ke kelas saya karena pada saat itu ada guru yang sedang mengajar. Dengan menggunakan seragam yang sudah basah kuyup dan sendal jepit saya pun memasuki kelas. Saya sangat takut kalau ditertawai oleh seisi kelas. Namun ternyata salah, teman-teman seisi kelas malah menyambut saya dengan tepuk tangan dan tersenyum. Saya sangat terharu saat itu, karena salah satu teman saya pun berkata kalau dia bangga dengan semangat saya untuk pergi ke sekolah.